Sabtu, 24 Januari 2009

Kewajiban Utama Untuk Menghindari Dosa Besar

(pengajian dengan Ibu Hj. Yulia 23/01/09)

1. Mentauhidkan Allah
Yaitu memurnikan ibadah kita hanya kepada Allah saja. Tujuan Allah menciptakan kita hanya untuk beribadah kepada Allah SWT. Bisa dilihat dalam Al-Quran Surat Az-Zariya(51) ayat 56, yang artinya:
Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.

Maka seluruh kehidupan kita adalah ibadah. Untuk mentauhidkan Allah harus dengan ilmu. Dapat dilihat dalam Al-Quran Surat Muhammad (47) ayat 19, yang artinya:
Maka ketahuilah, bahwa tidak ada Tuhan (yang patut disembah) selain Allah, dan mohonlah ampunan atas dosamu dan atas (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat usaha dan tempat tinggalmu.

Semua ucapan Rasulullah saw adalah wahyu. Rasulullah tidak pernah berbicara berdasarkan hawa nafsu. Al-Quran Surat An-Najm (53) ayat 2-4, yang artinya:
(2) kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak (pula) keliru, (3) dan tidaklah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut keinginannya. (4) Tidak lain (Al-Quran itu) adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)

Al-Quran dan As-Sunnah adalah dari Allah swt. Ada suatu cerita yang meriwayatkan bahwa seseorang bisa masuk neraka karena seekor lalat, dan sebaliknya seseorang bisa masuk surga karena seekor lalat. Hikmah dari cerita tersebut adalah:
Betapapun sepelenya suatu perbuatan, apabila menyangkut hak Allah menjadi urusan besar.

Sekarang banyak kejadian dimana manusia menyembelih binatang untuk dipersembahkan selain kepada Allah. Hal ini terjadi karena mereka berpikir bahwa perbuatan mereka tersebut bukan ibadah. Padahal nazar dan nahar adalah ibadah ( nahar adalah sembelihan dan hanya dipersembahkan kepada Allah swt). Seperti dikatakan dalam Al-Quran surat Al-Kautsar (108) ayat 2, yang artinya:
Maka laksanakanlah shalat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah).


2. Beramal Soleh
Amal Soleh itu adalah amal yang benar/lurus. Harus ada dua aspek yang dipenuhi, yaitu:
  1. aspek lahiriyah
  2. aspek batiniyah
Aspek lahiriyah berarti kita melakukan/mengikuti contoh yang dilakukan Rasulullah saw. Sementara aspek batiniyah, berarti kita melakukan segala sesuatu hanya karena Allah (ikhlas). amal soleh sering digabungkan dengan iman kepada Allah.


3. Ikhlas
Ikhlas merupakan syarat diterimanya amal soleh. Seperti dikatakan dalam Al-Quran Surat Al-Bayyinah (98) ayat 5, yang artinya:
Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).

Ikhlas adalah memurnikan niat dan tujuan hanya kepada Allah swt.

Sebaik-baik pemberian adalah pemberian di saat kita sedang merasa sempit (takut miskin).

Ada riwayat yang menceritakan mengenai 3 orang yang pertama dimasukkan ke dalam neraka. Yaitu 3 orang yang melakukan amalan yang sangat luar biasa, yang tidak semua orang dapat melakukannya, tapi mereka melakukan amalan tersebut bukan karena Allah swt (tidak ikhlas). Yaitu:
  1. orang yang ikut perang fi sabilillah karena ingin disebut pahlawan,
  2. orang kaya yang selalu berderma karena ingin dianggap dermawan, dan
  3. orang alim yang mengajarkan ilmu Al-Quran karena ingin dianggap orang soleh.

Hanya sedikit orang-orang yang bisa selamat dari tipuan amalnya, kecuali orang-orang (terpilih) yang dibuat ikhlas oleh Allah. Seperti dikatakan dalam Al-Quran Surat Al-Hijr (15) ayat 39-40, yang artinya:
(39) Ia (iblis) berkata, "Tuhanku, oleh karena Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, aku pasti akan jadikan (kejahatan) terasa indah bagi mereka di bumi, dan aku akan menyesatkan mereka semuanya, (40) kecuali hamba-hamba-Mu yang terpilih diantara mereka.

Karenanya doa adalah senjata orang mukmin, agar Allah memasukkan mereka ke dalam golongan orang-orang yang terpilih.


4. Menuntut ilmu sehingga ia mengetahui apa-apa yang ia belum tahu
Seperti dikatakan dalam Al-Quran Surat Al-Fatir (35) ayat 28, yang artinya:
Dan demikian (pula) di antara manusia, makhluk bergerak yang bernyawa dan hewan-hewan ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Diantara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama. Sungguh, Allah Maha Perkasa, Maha Pengampun.

  • Ulama adalah orang-orang yang berilmu, mereka mengetahui ilmu kebesaran dan kekuasaan Allah.
  • Ilmu din akan membuat orang mukmin takut kepada Allah sehingga ia takut untuk berbuat dosa/maksiat.
  • Orang-orang yang beriman dan berilmu akan ditinggikan derajatnya oleh Allah swt.
  • Bila Allah menghendaki kebaikan akan seseorang, maka Allah akan membuat orang tersebut paham akan ilmu din.
Untuk paham ilmu agama maka kita harus terus belajar.


5. Melaksanakan hal-hal yang fardhu baginya yaitu Rukun Islam dan Rukun Iman.

Sabtu, 17 Januari 2009

7 Dosa-Dosa Besar Yang Membinasakan (Bag. 2)

(Pengajian dengan Ibu Hj. Yulia 16/01/09)

Dosa orang yang membiarkan tuduhan berzina terhadap wanita baik-baik berkembang luas, sama besarnya dengan orang yang membuat tuduhan tersebut. Karena itu bila kita mendengar ada orang yang membicarakan hal itu maka katakanlah sesuai Al-Quran Surat An-Nur (24) ayat 16, yang artinya:
"Dan mengapa kamu tidak berkata ketika mendengarnya,"Tidak pantas bagi kita membicarakan ini. Maha Suci Engkau, ini adalah kebohongan yang besar.""

5. Makan Riba
Riba adalah kelebihan keuntungan dari pinjaman yang bersyarat.

Dalam Islam harta tidak berkembang secara langsung tapi melalui usaha dan kerja keras. Riba bertentangan dengan prinsip keadilan. Dosa riba lebih besar dari dosa seseorang yang menzinahi ibu kandungnya.

Riba ada 2 macam:
  1. Riba Nasi'ah: Seseorang menjual sesuatu dengan tempo. Bila dalam tempo yang ditentukan pembalinya tidak dapat membayar, maka jumlah uang ditambah dan waktunya diperpanjang. (Cash dengan kredit harganya beda.)
  2. Riba Fadl: Seseorang menjual sesuatu/menukarkan sesuatu dengan barang yang sama dengan tambahan.
6. Memakan Harta Anak Yatim.

7. Lari Dari Medan Perang Fii Sabilillah
Para Ulama sepakat bahwa dosa-dosa besar tidak akan terhapus dengan amal soleh. Baru bisa terhapus dengan taubat.

Seperti dinyatakan dalam Al-Quran Surat Ali Imran (3) ayat 133, yang artinya:
"Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhan-mu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa."

Syarat agar taubat diterima:
  1. Menghentikan perbuatan dosa,
  2. Menyesalinya,
  3. Bertekad tidak mengulangi,
  4. Menggantinya dengan perbuatan baik (banyak beramal soleh),
  5. Apabila menyangkut orang lain maka selesaikan dengan orang tersebut.
Kezaliman ada 3, yaitu:
  1. yang tidak diampuni Allah,
  2. dosa-dosa yang diampuni Allah (dosa-dosa kecil yang diampuni tanpa harus bertaubat),
  3. yang disisakan, yaitu dosa yang tetap ada selama urusan dengan sesama manusia belum diselesaikan.

Jumat, 09 Januari 2009

ISTIQAMAH

(oleh Musysffa Lc)

Rasulullah - salallallahu 'alaihi wa sallam - bersabda:
Dari Sufyan bin Abdillah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Saya berkata kepada Rasulullah saw: "Wahai Rasulullah, katakan kepadaku tentang Islam satu ucapan yang aku tidak bertanya ke siapapun selain engkau tentangnya". Rasulullah saw bersabda: "Katakan 'Aku beriman kepada Allah', kemudian istiqamahlah." (HR Muslim)

Takhrij Hadits
Hadits ini adalah hadits shahih, diriwayatkan oleh Muslim dalam shahih-nya pada kitab al-Iman, bab Jami' Aushaf as-Islam, hadits no. 38.

Hadits yang sangat pendek dan mudah dihafalkan ini memiliki bobot dan kedudukan yang sangat tinggi dan besar dalam agama Islam, sebab ia adalah satu kosakata yang mencakup berbagai sisi dan kandungan agama Islam. Jika nilai-nilainya dipenuhi oleh seorang muslim, maka ia telah memenuhi semua sisi agama.

Kandungan Hadits
Sebelum membahas tentang istiqamah, ada satu hal yang menarik dari hadits ini, yaitu betapa para sahabat nabi begitu bersemangat untuk bertanya dan meminta "resep" kepada Rasulullah saw dalam rangka mendapatkan keberuntungan hidup di dunia dan kebahagiaan di akhirat.

Hal lain yang menarik dari hadits ini adalah bahwa semangat para sahabat nabi adalah semangat amal dan bukan semata-mata bertanya untuk bertanya. Mengingat konsekwensi amal itu sangat berat, "resep" atau "konsep" yang mereka minta tidaklah banyak dan panjang, tapi singkat dan pendek saja. "Resep" atau "konsep" yang singkat namun padat makna ini adalah jawami' al-kalim.

Hal ketiga yang menarik dari hadits nabi saw adalah jawaban pendek beliau yang merupakan rahasia Islam, yaitu:
  1. Pernyataan seseorang untuk mengatakan: amantu (saya telah beriman) , dan
  2. Kesabaran panjang sampai akhir hayat untuk tetap konsisten dan istiqamah pada pernyataan tersebut.

Makna Istiqamah
Secara bahasa, kata istiqamah menunjukkan arti:
  • Lurus tegak dan tidak bengkak-bengkok atau tidak belak-belok.
  • Berpegang teguh kepada sesuatu dan sedikitpun tidak mau melepaskan pegangan tersebut.
  • Ketegaran dan keteguhan atas sesuatu yang menjadi pegangan seseorang, tidak sedikitpun kegoyahan atau miring-miring padanya.
  • Menjalankan, menegakkan dan mengamalkan sesuatu yang telah menjadi komitmen seseorang.
  • Kesinambungan dan kontinyuitas amal sampai pada akhir hayat.
Jadi, saat seseorang disebut istiqamah berarti ia memiliki lima makna di atas.

Sedangkan menurut istilah, yang dimaksud istiqamah adalah keseluruhan makna di atas dalam kaitan dengan seluruh ajaran agama, baik yang bersifat ucapan, perbuatan dan bahkan niat. Betapa beratnya! Semoga Allah - subhanahu wa ta'ala - memberikan pertolongan untuk kita tetap istiqamah.

Kesabaran Yang Panjang
Ada hal menarik dalam "resep" atau "konsep" Rasulullah saw dalam hadits ini, dimana beliau saw mempergunakan kalimat sambung: tsumma yang berarti kemudian.

Dalam bahasa Arab, kalimat sambung yang menunjukkan arti "kemudian" ada dua macam, yaitu: fa yang biasa diterjemahkan "lalu", dan tsumma yang biasa diterjemahkan "kemudian". Dalam bahasa Arab, kata fa menunjukkan adanya urutan dalam tempo atau jarak dekat. Sedangkan kata tsumma menunjukkan urutan dalam jarak panjang dan jauh.

Penggunaan kata tsumma dalam hadits nabi ini menunjukkan bahwa istiqamah yang dituntut adalah istiqamah panjang dan bahkan sangat panjang, sepanjang hidup seseorang. Jadi, jika sesorang telah istiqamah selama 50 tahun dalam hidupnya, namun pada satu tahun terakhir dia "menyerah" dalam arti menyelisihi pernyataan imannya, maka ia tidak bisa dikatakan istiqamah.

Istiqamah Adalah Perintah Yang Amat Berat
Dengan pengertian seperti di atas, maka perintah untuk istiqamah adalah perintah yang sangat berat. Sampai-sampai Rasulullah saw menjadi beruban rambut kepala beliau karena menerima perintah dari Allah swt untuk istiqamah. Rasulullah saw bersabda:
"Surat Hud dan saudara-saudaranya telah menjadikan kepalaku beruban." (Hadits shahih diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, hadits no. 3219)

Hal ini dikarenakan di dalam surat Hud terdapat perintah kepada beliau untuk istiqamah, tepatnya pada QS Hud: 112, "Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan."

Muqarabah dan Istighfar
Mengingat betapa berat dan sulit untuk istiqamah, Rasulullah saw memberikan jalan keluar yang bernama muqarabah yaitu upaya yang sungguh-sungguh untuk mendekati titik ideal istiqamah.

Terkait dengan hal ini Rasulullah saw bersabda:
"Istiqamahlah kalian, dan kalian tidak akan mampu mencapai puncaknya, dan ketahuilah sebaik-baik amal kalian adalah shalat dan tidak konsisten menjaga wudhu kecuali seorang mukmin."

Dan dalam riwayat Imam Ahmad:
"Akan tetapi tepatkanlah sasaran istiqamah kalian dan berusahalah untuk mendekati titik sasaran, dan tidak konsisten menjaga wudhu kecuali seorang mukmin."

(Hadits shahih diriwayatkan olah Ahmad dan lainnya. Lihat shahih al-Jami', hadits no. 952)

Memenuhi standar istiqamah juga bukan sesuatu yang gampang, dan hampir bisa dipastikan ada saja sisi-sisi kelemahan dan kekurangan manusia dalam hal ini. Untuk ini perintah istiqamah dalam Al-Quran disusul dengan perintahuntuk istighfar sebagaiman tersebut dalam QS Fushshilat: 6, "Katakanlah: Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya. Dan kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan-Nya."

Penolong Untuk Istiqamah
ada beberapa amal yang jika manusia mnejalnkannya, insya Allah amal-amal ini akan sangat membantu untuk istiqamah. Di antaranya adalah:
  1. Menjalankan berbagai bentuk ketaatan dan sungguh-sungguh dalam menjalankannya. Inilah salah satu rahasia, kenapa perintah istiqamah dalam Qs Hud: 112 disusul dengan perintah untuk menegakkan sholat pada QS Hud: 114.
  2. Meningkatkan ilmu dan pemahaman. Barangkali inilah salah satu rahasia kenapa Rasulullah saw diperintahan oleh Allah swt untuk berdoa: rabbi zidni 'ilma sebagaimana QS Thaha: 114.
  3. Ikhlas (memurnikan) segala bentuk niat dan tujuan murni semata-mata karean Allah swt.
  4. Mengikuti sunnah Rasul saw.
  5. Moderat dan tawazun, baik dalam pola pikir, bertindak maupun beramal.
  6. Berkawan dengan orang-orang shalih yang mengutamakan istiqamah.
  7. Selalu mengakrabkan diri dengan Al-Quran.
  8. Berdoa dan memohon kepada Allah swt untuk bisa istiqamah.
Akhirnya, semoga Allah swt senantiasa membimbing, memberi taufiq, hidayah dan kekuatan kepada kita untuk istiqamah di atas jalan-Nya. amiin.

(sumber: Ummi edisi 7/XX November 2008/1429H)

Jumat, 02 Januari 2009

Pedoman Memasuki Rumah Orang Lain

(oleh Ahmad Kusyairi Suhail, MA
Direktur Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin (STIU)/
Darul Hikmah/ Yapidh Bekasi)


"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat. Jika kamu tidak menemui seorang pun di dalamnya, maka janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapat izin. Dan jika dikatakan kepadamu:"Kembali (sajalah)", maka hendaklah kamu kembali. Itu bersih bagimu dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Tidak ada dosa atasmu memasuki rumah yang tidak disediakan untuk didiami, yang didalamnya ada keperluanmu, dan Allah mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang kamu sembunyikan." (Al-Quran Surat An-Nuur [24] ayat 27-29)

Sesungguhnya dalam membentuk masyarakat yang bersih dan berwibawa tidak mengandalakan kepada penerapan hukuman, melainkan lebih mengandalkan kepada tindakan pereventif (wiqayah) dan antisipatif. Ia tidak memerangi hasrat dan syahwat manusia, namun mengaturnya, menyiapkan baginya miliu (lingkungan) yang kondusif dan menyalurkannya dengan cara-cara suci nan syar'i.

Dari sini, rumah seseorang, dalam perspektif Islam, memiliki nilai yang agung dan harga diri yang tiada ternilai, yang tidak boleh dicederai dan dinodai. Sebab termasuk prinsip dalam syari'at Islam adalah memperhatikan privacy orang lain dan tidak boleh dilanggarnya. Dan rumah merupakan sesuatu yang sangat pribadi bagi setiap insan.

Untuk itulah Islam datang dengan sejumlah pedoman dan adab untuk memasuki rumah orang lain yang terdapat dalam ayat-ayat diatas. Semua itu tentunya untuk menjaga keharmonisan hubungan antar keluarga. Maka, setiap anggota keluarga harus mengetahuinya demi kebaikan bersama. Berbagai perseteruan dan percekcokan antara dua keluarga atau warga, sering disebabkan oleh pengabaian terhadap pedoman ini.

Asbabun Nuzul (sebab turunnya ayat)

Ibnu Jarir Ath Thabari rahimahullah meriwayatkan dari 'Adi bin Tsabit berkata: "Seorang wanita dari kalangan Anshar datang (menemuiNabi) seraya berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku di rumah dalam keadaan yang aku tidak ingin dilihat oleh siapapun, baik ayahku maupun anakku. Selama ini seorang lelaki dari keluargaku biasa menemuiku dan aku dalam keadaan seperti tadi. Lalu apa yang harus aku perbuat?" Kemudian turunlah ayat 29 dari QS An Nuur (24) di atas (Tafsir Ath Thabari IX/297)

Sementara untuk Asbabun Nuzul ayat 29 dari surat yang sama, Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Muqaatil bin Hayyan, ia berkata: "Ketika turun ayat isti'dzan (meminta izin) untuk memasuki rumah (ayat 27 dari Qs An Nuur), Abu Bakar bertanya, "Wahai Rasulullah, bagaimana dengan para saudagar Quraisy yang mondar mandir antara Mekkah, Madidah dan Syam. Mereka memiliki tempat-tempat singgah di jalan yang sudah maklum, bagaimana caranya mereka meminta izin dan mengucapkan salam, padahal tempat itu tidak berpenghuni?". Lalu turunlah ayat tersebut (Tafsir Al Munir, DR Wahban Az Zuhaili, XVIII/200).

Hukum Isti'dzan (meminta izin) memasuki rumah orang lain
Ayat di atas memberikan pemahaman kepada kita, bahwa isti'dzan sebelum memasuki rumah orang lain hukumnya wajib. Hal ini terbaca dengan jelas dari bunyi ayat tersebut:"...janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin....". Sementara isti'dzan untuk memasuki rumah sendiri hukumnya sunnah.

Jika ayat diatas diawali dengan An Nidaa' Al Habib (panggilan mesra); "Ya Ayyuhalladziina Aamanuu" (Wahai orang-orang yang beriman), maka hal ini mempertegas bahwa karakter orang yang beriman adalah selalu isti'dzan. Jika ingin memakai barang atau peralatan milik orang lain, ia selalu isti'dzan. Jika berhalangan tidak masuk kerja atau absen dalam aktivitas da'wah selalu isti'dzan kepada pihak yang berkompeten, dan seterusnya. Termasuk ketika akan memasuki rumah orang lain, jiga mengawali dengan isti'dzan. Sebab isti'dzan adalah termasuk Muqtadhayaatul Iman (tuntunan keimanan). Berarti orang yang tidak biasa isti'dzan dipertanyakan kualitas keimanannya.

Pada masa jahiliyah, adalah merupakan hal yang biasa seorang tamu nyelonong masuk ke rumah orang lain, tanpa isti'dzan, kemudian ia langsung berkata: "Aku telah masuk!" Sehingga ia pun dengan leluasa melihat penghuni rumah dengan istrinya dalam kondisi yang seharusnya tidak boleh dilihat oleh orang lain. Bisa jadi ia melihat wanita atau orang di rumah itu dalam keadaan telanjang atau terbuka auratnya. Sudah barang tentu hal ini sangat menyakitkan, melukai hati dan mencederai kehormatan penghuni rumah itu. Sehingga menghilangkan privacy, security, ketenanganan dan ketentraman (sakinah) yang semua keluarga selalu mengidamkannya. selain tentu, hal ini bisa memicu munculnya fitnah syahwat (Fi Zhilal Al-Qur'an IV/2508-2509).

Sifat Isti'dzan
Ayat di atas juga memaparkan tentang sifat isti'dzan;"...janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya..."

Maka disyari'atkan bagi orang yang meminta izin untuk mengucapkan salam: "Assalamu'alaikum. Apakah aku boleh masuk?" sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah saw.

Ketika Shafwan bin Umayah menemui Nabi saw yang sedang ada di ketinggian bukit, ia bercerita:"Lalu aku masuk menemui beliau tanpa mengucapkan salam dan isti'dzan (meminta izin). Maka Nabi saw, mengajarkan adab memasuki rumah orang lain sambil bersabda," Kembalilah, lalu ucapkan Assalamu'alaikum. Apakah aku diperkenankan masuk?" (HR At Tirmidzi no. 2710, dia berkata: Hadits ini Hasan Gharib, dan Abu Dawud no. 4508)

Didalam Hadits ini mengucapkan salam lebih didahulukan dari pada isti'dzan.

Adab Isti'dzan
Di antara adab dan sopan santun isti'dzan yang diajarkan Islam adalah:

Pertama, hendaknya seorang yang bertamu ketika isti'dzan tidak berdiri di depan pintu, melainkan mengambil posisi di sebelah kanan atau kiri pintu.

Dari Abdullah bin Bisr ra; "Sesungguhnya Nabi saw jika mendatangi pintu rumah (seseorang) ingin isti'dzan, tidak menghadap pintu. Beliau datang di posisi kanan atau kiri (pintu). Jika diizinkan masuk, beliau masuk. Tapi jika tidak, beliau pulang kembali" (HR Bukhari di kitab Al Adab Al Mufrid no.1081)

Hal ini beliau lakukan, sebab ketika berdiri di tepat didepan pintu, lalu pintu dibuka maka bisa jadi kita akan melihat pemandangan dalam rumah yang tidak diinginkan oleh penghuni rumahnya. Sehingga menafikan hikmah disyari'atkannya isti'dzan seperti disabdakan oleh Rasulullah saw,"Sesungguhnya dijadikan (disyari'atkan) isti'dzan itu demi menjaga penglihatan." (HR Bukhari no.5772 dan Muslim no. 4014).

Kedua, mengetuk pintu dengan sopan dan suara yang tidak terlalu keras. Inilah yang kita pahami dari penggunaan isti'dzan dalam ayat di atas dengan redaksi lafazh "Isti'nas" yang berkonotasi lembut dalam isti'dzan dan sopan dalam mengetuk pintu rumah, sehingga penghuni rumah tidak terganggu dan siap menyambut tamunya dengan hangat dan mesra (Lihat Fi Zhilal Al-Qur'an IV/2508).

Ketiga, menyebut nama atau panggilan yang biasa dikenal oleh penghuni rumah jika ditanya. Dari Jabir ra ia bercerita:"Aku pernah mendatangi Nabi saw, lalu aku mengetuk pintu, beliau bertanya,"Siapa ini?' Aku menjawab,'Saya'. Lalu beliau mengatakan,'Saya. Saya!' Sepertinya beliau tidak menyukainya--karena tidak disebutkan namanya--(HR Bukhari no.5718 dan Muslim no. 4011 dan 4012).

Keempat, hendaklah pulang jika ditolak untuk bertamu dan diminta pulang oleh penghuni rumah, tanpa merasa dongkol dan benci. Sebab, mungkin penghuni rumah tidak siap menerima tamu, atau ia sedang dalam kesibukan yang sangat urgent. Hal ini dalam budaya masyarakat Timur belum terbiasa, namun ini merupakan aturan Illahi:"...dan jika dikatakan kepadamu:"Kembali (saja)lah", maka hendaklah kamu kembali. Itu bersih bagimu dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."

Rasulullah saw bersabda,"Isti'dzan itu tiga kali. Jika diizinkan masuk (masuklah), dan jika tidak, maka pulanglah!" (HR Bukhari no. 6806 dan Muslim no. 4007).

Jika semua keluarga di negeri ini memahami pedoman-pedoman di atas dan mengaplikasikan dalam kehidupan sosialnya, niscaya masyarakat dan bangsa kita akan selalu berada dalam kedamaian, ketentraman dan kemakmuran. Sebab adakah perintah dan taujlihat (arahan) Islam yang tidak membawa kepada kedamaian, ketentraman dan kemakmuran?

(sumber: Ummi edisi 11/XVIII/Maret 2007)