Jumat, 28 November 2008

Hal-Hal Yang Menghalangi Qalbu Dalam Memahami Al-Quran

(pengajian dengan ibu Hj. Yulia 21/11/08)

Karunia yang terbesar adalah iman, islam dan ilmu. Dengan ilmu Allah meninggikan derajat orang-orang beriman.

Al-Quran di manzilkan (dihujamkan) ke dalam hati Rasulullah SAW sehingga perilaku beliau itulah Al-Quran. Bila Al-Quran hanya sebatas ilmu pengetahuan, maka tak ada manfaatnya untuk kita. Bahkan ayat-ayat Al-Quran tidak bermanfaat bagi orang-orang yang tidak beriman.

Seperti yang dikatakan dalam Al-Quran SuratYunus (10) ayat 101 yang artinya:
Katakanlah,"Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi!"Tidaklah bermanfaat tanda-tanda (kebesaran Allah) dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang yang tidak beriman.

Peranan qalbu dalam memahami ayat-ayat Al-Quran sangat penting. Keimanan juga berada di dalam qalbu. Bila dalam qalbu bermasalah maka mereka tidak dapat memahami Al-Quran.

Seperti yang dikatakan dalam Al-Quran Surat Al-Hajj (22) ayat 46 yang artinya:
Maka tidak pernahkah mereka berjalan di bumi, sehingga hati (akal) mereka dapat memahami, telinga mereka dapat mendengar? Sebenarnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.

Ruh terbagi atas 3 komponen:

---> qalbu
Ruh ---> hawa nafsu
---> aqal


Dalam Qalbu terdapat:
  1. iradah (kehendak Allah)
  2. i'tiqod (keyakinan/iman)
  3. syu'ur (perasaan-perasaan yang berhubungan dengan keimanan)
Dalam Aqal terdapat:
  1. idrak (kemauan)
  2. hayal (daya imajinasi/kreasi)
  3. tafsir (daya analisis/ nalar)

Makanan aqal adalah ilmu, sementara makanan qalbu adalah dzikrullah (mengingat Allah). Bila Al-Quran hanya sebatas ilmu, maka keberadaannya di aqal masih dibawah hawa nafsu. Akibatnya mungkin terjadi penyimpangan-penyimpangan aqal karena dipengaruhi oleh hawa nafsu. Sebaliknya, bila Al-Quran sudah menjadi keimanan, maka keberadaannya di qalbu di atas hawa nafsu. Sehingga hawa nafsu tidak akan mempengaruhi keimanan.
Tapi, bila qalbu bermasalah, maka qalbu tidak akan dapat melaksanakan tugasnya dengan baik.

Apa-apa yang menghalangi qalbu dalam memahami Al-Quran:

1. Tidak ada iman.
Lihat Al-Quran Surat Al-Munafiqun(63) ayat 3, yang artinya:
Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir, maka hati mereka dikunci, sehingga mereka tidak dapat mengerti.

Orang-orang yang tadinya beriman, tapi kemudian kafir, maka qalbunya ditutup sehingga tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya.

2. Sombong/Takabur.
Lihat Al-Quran Surat An-Naml (27) ayat 13-14, yang artinya:
(13) Maka ketika mukjizat-mukjizat Kami yang terang itu sampai kepada mereka, mereka berkata,"Ini sihir yang nyata." (14) Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongannya, padahal hati mereka meyakini (kebenaran)-nya. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan.

Walaupun seseorang sudah sadar akan sesuatu fakta, tapi mereka tidak mau memahami, disebabkan karena kesombongan.

3. Taklid buta terhadap pendapat nenek moyang mereka.
Lihat Al-Quran Surat Al-Baqarah (2) ayat 170-171, yang artinya:
(170) Dan apabila dikatakan kepada mereka, "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah'" mereka menjawab,"(Tidak!) Kami mengikuti apa yang kami dapati pada nenek moyang kami (melakukannya)," Padahal, nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa pun, dan tidak mendapat petunjuk. (171) Dan perumpamaan bagi (penyeru) orang yang kafir adalah seperti (penggembala) yang meneriaki (binatang) yang tidak mendengar selain panggilan dan teriakan. (Mereka) tuli, bisu dan buta, maka mereka tidak mengerti.

Orang-orang yang memilih mengikuti tradisi-tradisi nenek moyang mereka (tradisi yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah) karena meyakini bahwa hal tersebut bermanfaat perumpamaannya adalah seperti binatang. Mereka tidak dapat memahami Al-Quran.

4. Mengikuti Hawa Nafsu.
Lihat Al-Quran Surat Al-A'raf (7) ayat 176, yang artinya:
Dan sekiranya Kami menghendaki niscaya Kami tinggikan (derajat) nya dengan (ayat-ayat) itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan mengikuti keinginannya (yang rendah), maka perumpamaannya seperti anjing, jika kamu menghalaunya dijulurkan lidahnya dan jika kamu membiarkannya ia menjulurkan lidahnya (juga). Demikianlah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah kisah-kisah itu, agar mereka berpikir.

Perumpamaan orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya adalah anjing. Apapun yang kita lakukan, anjing akan selalu menjulurkan lidahnya. Mereka mengikuti hawa nafsu yang biasanya membenarkan segala hal, walaupun dengan cara yang batil.

5. Banyak melakukan maksiat.
Dalam hadist dikatakan:
Setiap anak Adam bila melakukan suatu dosa maka akan timbul satu titik hitam dalam qalbunya. Semakin banyak perbuatan dosa maka semakin banyak titik hitamnya. Bila tidak dihapus, lama-lama qalbu akan menjadi hitam.

Lihat dalam Al-Quran Surat Al-Mutafifin (83) ayat 14, yang artinya:
Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan itutelah menutupi hati mereka.

Cara untuk membersihkan qalbu adalah dengan bertaubat/istighfar.

6. Ragu-ragu.
Hati yang ragu tidak akan mampu menangkap pesan-pesan dari Allah ketika kebenaran itu datang.
Lihat dalam Al-Quran Surat Al-Baqarah (2) ayat 147 yang artinya:
Kebenaran itu dari Tuhanmu, maka janganlah sekali-kali engkau (Muhammad) termasuk orang-orang yang ragu.

Al-Quran Surat At-Talaq(65) ayat 2-3 yang artinya:
(2) ......Demikianlah pengajaran itu diberikan bagi orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. Barang siapa bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya. (3) Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu.

Taqwa berarti mengikuti semua perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Setelah kita bertaqwa, baru bertawakal dan bergantung kepada Allah. Jangan ragu-ragu, karena Allah melaksankan urusan-Nya. Jangan pernah berburuk sangka kepada Allah.

Minggu, 23 November 2008

Catatan Untuk Surat Ar-Rad ayat 8-18

(04/07/08)

Al-Quran Surat Ar-Rad (13) ayat 8-10
Kesimpulan:
  • Allah Maha Mengetahui. Allah mengetahui hal-hal yang diucapkan atau disembunyikan oleh manusia.
Al-Quran Surat Ar-Rad (13) ayat 11-18
Kesimpulan:
  • Manusia hanya bisa berusaha dan harus berusaha. Hasil akhirnya ditentukan oleh Allah.
  • Allah satu-satunya yang mengabulkan doa. Allah satu-satunya pelindung.
  • Orang kafir tidak sama dengan orang beriman. Allah menyiapkan tempat yang baik untuk orang beriman dan menyiapkan tempat yang buruk untuk orang kafir.

Sabtu, 22 November 2008

Catatan untuk Surat Yusuf (12) ayat 69-111

(26/09/07)

Al-Quran Surat Yusuf (12) ayat 69-79
Kesimpulan:
Kadang-kadang saudara kita sendiri membuat kesalahan, atau membuat kita marah. Tapi hal itu bukan berarti kita boleh melampiaskan amarah kita atau membalas dendam kepada mereka. Yang terbaik adalah menahan amarah dan tetap bersikap baik. Tetapi kita juga harus mengingatkan mereka bahwa apa yang mereka lakukan itu salah dan menyakiti hati kita.

Surat Yusuf (12) ayat 80-93
Kesimpulan:
  • Kita harus menahan amarah.
  • Orang mukmin tidak berputus asa dari rahmat Allah SWT. Yang berputus asa adalah orang-orang kafir.
  • Orang mukmin harus bertakwa dan bersabar karena Allah tidak pernah menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.

(27/09/07)

Al-Quran Surat Yusuf (12) ayat 94-104
Kesimpulan:
  • Tidak ada yang tidak mungkin bila Allah sudah berkehendak.
  • Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
  • Ilmu manusia sangat terbatas sementara Allah Maha Mengetahui.
  • Doa nabi Yusuf (ayat 101) : "Ya Tuhan, Pencipta Langit dan Bumi. Engkaulah Pelindungku di dunia dan akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh."

(28/09/07)

Al-Quran Surat Yusuf (12) ayat 105-111
Kesimpulan:
  • Banyak sekali tanda-tanda kekuasaan Allah di langit dan di bumi yang diabaikan manusia.
  • Sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa.
  • Di dalam Al-Quran terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al-Quran sebagai petunjuk dan rahnat bagi kaum yang beriman.

Jumat, 21 November 2008

Tauhid Uluhiyah

(pengajian dengan Umi Husna 07/11/08)

Tauhid Rububiyah baru merupakan teori, dimana kita baru meyakini Allah sebagai satu-satunya:
  • raja penguasa alam
  • pencipta alam
  • pengatur
Tauhid Rububiyah tidak berarti bila tidak diikuti dengan Tauhid Uluhiyah, yaitu meyakini Allah sebagai satu-satunya yang kita ibadahi dan kita sembah.

Tauhid Uluhiyah atau disebut juga Tauhid Ibadah, merupakan satu-satunya misi yang dibawa olah semua nabi dan rasul.

Lihat di Al-Quran Surat An-Nahl (16) ayat 36 yang artinya
Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan),"Sembahlah Allah, dan jauhilah Thagut," kemudian diantara mereka ada yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula yang tetap dalam kesesatan. Maka berjalanlah kamu di bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang yang mendustakan (rasul-rasul).

Setiap umat ada nabinya, tapi karena adanya penyelewengan-penyelewengan sehingga misi para nabi tersebut tidak sampai kepada semua umat manusia.

Ketika seseorang beribadah kepada Allah, maka wajib baginya untuk kafir kepada thagut (sesembahan lain selain Allah).

Manusia boleh membuat peraturan atau undang-undang selama peraturan dan undang-undang tersebut tidak bertentangan dengan syariat. Tapi justru memperkuat.

Maka sembahlah Allah dan jauhilah thagut.
Bisa dilihat dalam Al-Quran Surat Al-Anbiya(21) ayat 25, yang artinya:
Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya, "bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Aku, maka sembahlah aku.

Marilah menuju kepada kalimat yang sama bagi kamu dan kami. Yaitu kalimat shahadat.
Bisa dilihat dalam Al-Quran Surat Ali-Imran (3) ayat 64, yang artinya:
Katakanlah (Muhammad), "Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan ) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka),"Saksikanlah, bahwa kami adalah orang muslim."

Dalam sebuah agama yang penting adalah konsep ketuhanannya. Kita juga harus mengerti apa makna ibadah.

Definisi secara bahasa:
ibadah sama dengan ketundukkan, sama juga dengan menghinakan diri.

Definisi secara Syariah:
Ibadah adalah suatu pengertian yang mencakup apa-apa yang dicintai dan diridhoi Allah, termasuk perkataan dan tingkah laku, baik yang nampak maupun tidak nampak (lahir dan batin).

Apakah yang dicintai Allah? Mari kita lihat Al-Quran Surat Ali-Imran (3) ayat 31, yang artinya:
Katakanlah (Muhammad), "Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu."Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.

Yang dicintai Allah adalah apa yang dilakukan nabi Muhammad SAW. Jangan sampai kita masuk ke dalam golongan orang-orang yang rugi.

Siapakah orang-orang yang rugi itu? Jawabannya ada dalam Al-Quran Surat Al-Kahf (18) ayat 103-106, yang artinya:
(103) Katakanlah (Muhammad), "Apakah perlu Kami beritahukan kepadamu tentang orang yang paling rugi perbuatannya?" (104) (Yaitu) orang yang sia-sia perbuatnnya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka mengira telah berbuat sebaik-baiknya. (105) Mereka itu adalah orang yang mengingkari ayat-ayat Tuhan mereka dan (tidak percaya) terhadap pertemuan dengan-Nya. Maka sia-sialah amal mereka, dan Kami tidak memberikan penimbangan terhadap (amal) mereka pada hari Kiamat. (106) Demikianlah, balasan mereka itu neraka Jahanam, karena kekafiran mereka, dan karena mereka menjadikan ayat-ayat-Ku dan rasul-rasul-Ku sebagai bahan olok-olok.

Jadi, orang yang paling rugi adalah orang-orang yang merasa sudah melakukan amal ibadah, tapi ternyata amalannya ditolak.

Karena itu kita harus memperhatikan syarat ibadah, agar ibadah yang kita lakukan tidak tertolak.

Syarat Ibadah:
1. Ikhlas karena Allah.
2. Benar/betul mengikuti sunah.

Jumat, 14 November 2008

Mengaplikasikan Ketaqwaan Kita ke dalam Kehidupan Kita Sehari-hari

(pengajian dengan Ibu Hj. Yulia 12/09/08)

Allah memerintahkan kita untuk membawa bekal di hari akhir. Sebaik-baiknya bekal adalah TAQWA.

Manusia akan melewati beberapa alam, yaitu:
  1. Alam ruh
  2. Alam rahim
  3. Alam dunia (alam kita sekarang)
  4. Alam sakaratul maut
  5. Alam barzah/kubur
  6. Alam kiamat
  7. Alam padang mahsyar
  8. Alam hisab/ perhitungan
  9. Surga atau Neraka
Al-Qur'an Surat Al Hujurat (49) ayat 13, yang artinya:
Wahai manusia! Sungguh, kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.

Taqwa adalah sebuah sikap mental yang didasari oleh iman/keyakinan. Iman/keyakinan bisa menentukan sikap kita, sementara ilmu belum tentu bisa merubah sikap/perilaku kita. Karena ilmu adanya di akal, sementara iman/keyakinan adanya di hati kita. Bila kita mau berubah, maka ilmu harus dimazilkan (dihujamkan) ke hati kita.

Al-Qur'an Surat Al-Baqarah (2) ayat 2-3, yang artinya:
(2) Kitab (Al-Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (3) (Yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, melaksanakan shalat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka.

Sekarang, bagaimana caranya supaya Al-Qur'an bisa menghujam ke dalam qalbu kita?

(1) Mempelajari dan menghayati Al-Qur'an.

Al-Quran Surat Sad(38) ayat 28-29 yang artinya:
(28) (Yaitu) Al-Qur'an dalam bahasa arab, tidak ada kebengkokan(didalamnya) agar mereka bertakwa. (29) Allah membuat perumpamaan (yaitu) seorang laki-laki (hamba sahaya) yang dimiliki oleh beberapa orang yang berserikat yang dalam perselisihan, dan seorang hamba sahaya yang menjadi milik penuh dari seorang (saja). Adakah kedua hamba sahaya itu sama keadaannya? Segala puji bagi Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.

Tidak sama antara orang yang bertaqwa dengan yang tidak bertaqwa. Al-Qur'an diturunkan kepada orang-orang yang berpikir untuk dipelajari dan dihayati (ditadaburi).
Tadabur berarti mengasah mata hati terhadap makna-makna illahiyah yang terkandung dalan Qur'an dengan memusatkan pikiran dan merenungi agar dapat mengambil pelajaran.

Al-Qur'an diturunkan pada bulan Ramadhan karena pada bulan itu hati manusialebih bersih. Sehingga lebih mudah memazilkan ayat-ayat Qur'an ke dalam qalbu.

Al-Qur'an Surat Fatir (35) ayat 10 yang artinya:
Barang siapa menghendaki kemuliaan, maka (ketahuilah) kemuliaan itu semuanya milik Allah. Kapada-Nya lah akan naik perkataan-perkataan yang baik, dan amal kebajikan. Dia akan mengangkatnya. Adapun orang-orang yang merencanakan kejahatan mereka akan mendapat azab yang sangat keras, dan rencana jahat mereka akan hancur

Ketaqwaan adalah hasil dari semua ibadah.

(2) Ibadah mempunyai 2 aspek.

Ada dua aspek yang harus kita perhatikan pada saat kita beribadah.
  • Aspek amaliyah (cara)
  • Aspek maknawiah (nilai)
Contoh: ibadah puasa.
Aspek amaliyah: tidak makan, tidak minum dan melakukan hubungan suami-istri sejak imsak hingga magrib. Selama hal-hal tersebut tidak dilakukan maka puasanya sah.

Aspek maknawiah: menahan pandangan, lisan, pendengaran dan hati dari hal-hal yang keji. Bila hal-hal tersebut dilanggar, maka puasa kita tak ada nilainya di sisi Allah. Kita hanya mendapat lapar dan hausnya saja.

Al-Qur'an Surat Ali-Imran (3) ayat 134-135 yang artinya:
(134) (yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan. (135) dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, (segera) mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui.

Ciri-ciri orang bertaqwa menurut Al-Qur'an:
  • memaafkan,
  • menahan amarah,
  • bila berbuat dosa, segera mohon ampun serta tidak mengulangi perbuatan dosa itu lagi.

Jumat, 07 November 2008

Tauhid Rububiyah

(pengajian dengan Umi Husna 04/07/08)


Tauhid Rububiyah berarti kita meyakini bahwa Allah adalah sebagai al-khalik, ar-rozak, al-malik dan al-mudabbir.


Allah sebagai penguasa atau raja (al-malik)


Dalam Al-Quran Surat Al-Furqan ayat 2
yang artinya:
Yang memiliki kerajaan langit dan bumi, tidak mempunyai anak, tidak ada sekutu bagi-Nya, dalam kekuasaan(-Nya), dan Dia menciptakan segala sesuatu, lalu menetapkan ukuran-ukurannya dengan tepat.

dan dalam Surat Al-Al-Mu'minun ayat 116, yang artinya:
Maka Mahatinggi Allah, Raja yang sebenarnya; tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Tuhan (yang memiliki) 'Arsy yang mulia.

Berarti Allah sebagai raja yang sebenarnya, yang memiliki kerajaan langit dan bumi, mempunyai kekuasaan yang mutlak. Allah memberikan kekuasaan kepada manusia, tetapi kekuasaan manusia tidak mutlak. Di hari akhir nanti manusia akan dimintai pertanggunganjawab atas kekuasaan yang diberikan.

Dalam Al-Quran Surat Ali Imran ayat 26 tertulis
yang artinya:
Katakanlah (Muhammad),"Wahai Tuhan pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapapun yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari siapapun yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapapun yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapapun yang Engkau kehendaki.Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sungguh, Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.

Manusia sebagai pemimpin dan yang diberi kekuasaan harus mempertanggung-jawabkan tindakan-tindakannya kepada Allah. Kekuasaan manusia hanya bersifat sementara saja, karena semua yang ada di dunia pada akhirnya akan musnah.

Allah memerintahkan khalifah di bumi untuk berhukum dengan syariat Islam. Karena hukum yang dibuat manusia biasanya lemah dan mengikuti hawa nafsu manusia saja.

Pemimpin yang baik dalam Islam adalah yang:
  • melaksanakan sholat,
  • menunaikan zakat,
  • amar ma'ruf,
  • nahi munkar.
Dalam Al-Quran Surat Al-Hajj ayat 41 tertulis
yang artinya:
(Yaitu) orang-orang yang jika Kami berikan kedudukan di bumi, mereka melaksanakan shalat, menunaikan zakat dan menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.

Allah sebagai pengatur segala urusan (al-mudabbir)

Allah sebagai pencipta sekaligus pengatur alam semesta. Dalam Quran Surat Ar-Rad ayat 2 tertulis, yang artinya:
Allah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy. Dia menundukkan matahari dan bulan; masing-masing beredar menurut waktu yang telah ditentukan. Dia mengatur urusan (makhluk-Nya), dan menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), agar kamu yakin akan pertemuan dengan Tuhanmu.

Allah yang mengatur semua urusan kita (manusia) serta semua benda atau makhluk lain yang ada di alam semesta ini. Bila sampai sekarang negara kita belum bisa bangkit dari keterpurukan, mungkin karena masih banyak umat Islam di negara kita (termasuk para pimpinannya) yang masih mendustakan ayat-ayat Allah, masih bermaksiat kepada Allah. Sehingga Allah tidak mau melimpahkan berkah kepada kita.

Ini tertulis dalam Quran Surat Al-A'raf ayat 96, yang artinya:
Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai apa yang telah mereka kerjakan.

Allah memuliakan para pemimpin yang bertakwa dan amanah, dan menjanjikan pahala yang setimpal dengan amal perbuatan mereka.

Ini tertulis dalam Quran Surat An-Nur ayat 55, yang artinya:
Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia ridhai. Dan Dia benar-benar mengubah (keadaan) mereka setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka (tetap) menyembah-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun. Tapi barang siapa (tetap) kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.