Jumat, 19 Desember 2008

7 Dosa-Dosa Besar Yang Membinasakan (Bag. 1)

(pengajian dengan Ibu Hj. Yulia)

Rasulullah saw bersabda:
"Waspadalah kalian terhadap 7 dosa-dosa besar yang membinasakan"


Disebut 'membinasakan' karena bisa menghapus amal-amal baik kita.

Dosa-Dosa Besar Tersebut adalah:

1. Syirik
Dosa Syirik tidak akan diampuni selam-lamanya.
Seperti dinyatakan dalan Al-Quran Surat An-Nisa (4) ayat 48, yang artinya:
Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik)' dan Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barang siapa mempersekutukan Allah, maka sungguh, dia telah berbuat dosa yang besar.

Syirik juga dapat menghilangkan amal-amal kebaikan kita. Lihat dalam Al-Quran Surat Al-An'am (6) ayat 88, yang artinya:
Itulah petunjuk Allah, dengan itu Dia memberi petunjuk kepada siapa saja diantara hamba-hamba-Nya yang Dia kehendaki. Sekiranya mereka mempersekutukan Allah, pasti lenyaplah amalan yang telah mereka kerjakan.

2. Durhaka Kepada Orang Tua
Membuat orang tua bersedih sudah termasuk durhaka kepada orang tua. Hal-hal sederhana yang mungkin kita lakukan kepada orang tua dan membuat kita telah durhaka kepada orang tua kita adalah:
  • mengatakan "Ah",
  • memberi pandangan yang menyepelekan orang tua (walaupun kita diam saja)
  • mengabaikan orang tua

Bila kita menyakiti orang tua dan kita tidak minta maaf, maka amal ibadah kita tidak bernilai di hadapan Allah.

Diriwayatkan oleh Imam Tabrani:
Ada 3 hal yang dapat menghapus atau menghilangkan amal ibadah kita:
  1. Syirik
  2. Durhaka
  3. Lari dari medan perang "Fi Sabilillah"

Tuntunan kepada orang tua dalam menghadapi anak yang nakal/berbuat dosa
  • Maafkan mereka
  • Berlapang dada
  • Tutupi kesalahan mereka
Dapat dilihat dalam Al-Quran Surat At-Tagabun (64) ayat 14, yang artinya:
Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.

3. Belajar Sihir
Orang yang mendatangi sihir dan percaya padanya sama dengan orang kafir.

Rasulullah saw bersabda:
"Barang siapa mendatangi sihir maka sholatnya tidak akan diterima selama 40 malam."


Sholat adalah hal pertama yang diperiksa pada saat kita dihisab. Bila sholat kita baik, maka hisab akan berjalan mudah.

Seseorang yang mempunyai aqidah yang kuat adalah orang benar-benar meyakini bahwa Allah adalah satu-satunya yang bisa mendatangkan kebaikan dan menghilangkan kemudharatan. Allah akan memasukkan hambanya yang mempunyai aqidah yang kuat ke dalam surga tanpa hisab.

4. Menuduh seorang wanita baik-baik yang menjaga kehormatannya, berzina
Lihat dalam Al-Quran Surat An-Nur (24) ayat 23, yang artinya:
Sungguh, orang-orang yang menuduh perempuan-perempuan baik, yang lengah dan beriman (dengan tuduhan berzina), mereka dilaknat didunia dan di akhirat, dan mereka akan mendapat azab yang besar.

Allah hanya akan membebaskan orang yang menuduh tersebut bila orang itu bisa mendatangkan 4 orang saksi yang disumpah.
Lihat dalam Al-Quran Surat An-Nur (24) ayat 4, yang artinya:
Dan orang-orang yang menuduh perempuan-perempuan yang baik (berzina), dan mereka tidak mendatangkan 4 orang saksi, maka deralah mereka delapan puluh kali, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka untuk selama-lamanya. Mereka itulah orang-orang yang fasik.

Bagi orang yang ikut menyebarkan tuduhan tersebut maka dosanya sama besarnya dengan orang yang membuat tuduhan. Lihat dalam Al-Quran Surat An-Nur (24) ayat 19, yang artinya:
Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar perbuatan yang keji itu (berita bohong) tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, mereka mendapat azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.

Bila kita tidak mempunyai kemampuan untuk menghentikan orang lain membicarakan keburukan, maka hentikan berita itu, jangan disebar lagi.

Rasulullah saw bersabda:
"Barang siapa ingin ditutupi kesalahannya/aibnya maka tutupilah aib saudaranya."


Diperbolehkan menceritakan keburukan orang dengan tujuan menyelamatkan orang lain. Tapi hanya sebatas itu saja, tetap tidak boleh disebarkan.

(bersambung ke Bag. 2)

Jumat, 12 Desember 2008

Amal-Amal Penyebab Masuk Surga

(oleh Musyaffa Lc.)

Dari Jabir bin Abdillah ra bahwasanya seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah saw, lalu ia berkata: "Bagaimana pendapat engkau jika aku telah melaksanakan shalat wajib, berpuasa Ramadhan, menghalalkan yang halal, mengharamkan yang haram dan tidak menambahkan sesuatu pun atas amal-amal ini, akankah aku masuk surga?" Rasulullah saw menjawab: "Ya." (HR Muslim)

Takhirj Hadits
Hadits ini adalah hadits shahih, diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab shahih-nya, dalam kitab al-Iman, pada bab bayan al-iman al-ladzi yudkhalu bihi al-jannata, hadits no. 18 dan 17.

Menurut Ibnu Rajab al-Hanbali, makna (bukan lafazh, redaksi) hadits ini bahkan mutawatir, dalam arti keshahihan dari pengertian umum yang dikandung oleh hadits ini sudah tidak perlu dipertanyakan lagi. Maka menjadi kewajiban umat Islam untuk meyakini kebenarannya. Kenapa demikian? Sebab hadits-hadits yang semakna dengan hadits ini sangat banyak, dan kasus pengajuan pertanyaan seperti ini kepada Rasulullah saw dan cara beliau saw menjawab juga sangat banyak.

Kedudukan Hadits dalam Islam
Hadits ini secara umum menjelaskan tentang manhaj (konsep) Islam yang jelas, siapa pun yang komitmen dengannya niscaya ia akan memasuki surga Allah swt. Isi manhaj Islam ini secara garis besar adalah:
  1. Komitmen menjalankan dan melaksanakan berbagai kewajiban dari Allah swt, dan
  2. Komitmen meninggalkan dan menjauhi berbagai larangan Allah swt.
Hadits ini sekaligus juga menjelaskan tentang khaskhais (karakteristik) dari manhaj Islam, diantaranya adalah:
  1. Yusrun wa samahatun (mudah, murah dan toleran); mudah dalam konsepnya, murah dalam pengamalannya, serta toleran menyesuaikan dengan kemampuan masing-masing manusia.
  2. Wadhih (jelas dan gamblang), dimana setiap orang gampang menghafal dan mengingatnya.

Kandungan Hadits
Secara garis besar, hadits ini menjelaskan tentang sebab-sebab atau amal-amal yang menjadikan seseorang masuk surga.
Sebab-sebab dan amal-amal itu adalah:
  1. Komitmen menjalankan shalat wajib, yaitu shalat 5 waktu.
  2. Komitmen menjalankan puasa di bulan Ramadhan.
  3. Menghalalkan segala sesuatu yang dihalalkan Allah swt dengan cara meyakininya sebagai sesuatu yang halal dan megamalkan serta komitmen dengannya.
  4. Mengharamkan segala sesuatu yang diharamkan Allah swt dengan cara meyakininya sebagai sesuatu yang haram dan komitmen dalam menjauhi dan meninggalkannya.
Mungkin ada yang bertanya-tanya, kenapa zakat dan haji tidak disebut dalam hadits ini, padahal keduanya adalah rukun Islam?
Jawabannya satu dari tiga kemungkinan atau ketiganya sekaligus, yaitu:
  1. Mungkin saat pertanyaan ini dikemukakan, waktu itu zakat dan haji belum diwajibkan, atau
  2. Mungkin karena keduanya sudah tercakup dalam pengertian "menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram" atau
  3. Mungkin Rasulullsh saw mengetahui bahwa orang yang bertanya tersebut adalah orang fakir yang tidak wajib atasnya zakat dan haji. Wallahu a'lam.

Makna Menghalalkan yang Halal dan Mengharamkan yang Haram
Dalam hadits ini disebut kalimat "menghalalkan yang halal", maksudnya adalah bahwa Allah swt telah menje;askan melalui Al-Quran atau melalui hadits nabi perkara-perkara yang halal.

Terhadap penjelasan Allah swt seperti ini seorang muslim berkewajiban untuk meyakini kehalalan perkara-perkara ini, tidak mengemukakan pandangan dan pendapat lain atau menyelisihinya, serta mengamalkan dan melaksakan perkara-perkara halal ini.

Perlu diketahui bahwa "halal" yang dimaksud dalam hadits ini mencakup segala sesuatu yang diwajibkan dan difardhukan oleh Allah swt, atau disunnatkan oleh-Nya atau dinyatakan mubah (boleh) oleh-Nya.

Terhadap perkara-perkara seperti ini, seorang muslim tidak boleh berpendapat lain. Misalnya sudah jelas bahwa ikan itu halal, maka seorang muslim tidak dibenarkan untuk berpendapat lain dengan mengatakan: ikan itu hukumnya makruh atau haram.

Sedangkan yang dimaksud dengan "mengharamkan yang haram" adalah bahwa Allah swt telah menjelaskan melalui Al-Quran atau melalui hadits nabi perkara-perkara yang haram.

Terhadap penjelasan Allah swt seperti ini seorang muslim berkewajiban untuk meyakini keharaman perkara-perkara ini, tidak mengemukakan pandangan atau pendapat lain atau menyelisihinya. Sudah tentu seorang muslim juga harus berkomitmen untuk menjauhi dan meninggalkan perkara-perkara haram ini.

Rindu Surga
Ada hal menarik dalam hadits Nabi Muhammad saw ini, yaitu bahwa Rasulullah saw dalam dakwah dan tarbiyahnya kepada para sahabat telah berhasil membangun satu visi, dan satu cita rasa tentang kerinduan kepada surga. Sehingga pertanyaan yang dikemukakan oleh mereka adalah: adakah aku bisa masuk surga?

Hal lain yang juga menarik adalah bahwa untuk memasuki surga Allah swt diperlukan adanya "modal" yaitu amal atau sebab. Dan rupanya para sahabat Nabi Muhammad saw sangat memahami hal ini, sehingga sebelum mereka mengemukakan tentang keinginannya masuk surga, terlebih dahulu mereka menyebutkan "modal" yang diperlukan untuk merealisasikan hal ini.

Hal ini memberi pelajaran penting kepada generasi kaum muslimin sekarang ini, hendaklah mereka menjadi qaumun 'amaliyyun atau manusia-manusia yang lebih menekankan aspek amal perbuatan dan tidak hanya sekedar angan-angan kosong belaka.

Hal lain yang menarik dari hadits ini adalah kenyataan bahwa generasi sahabat nabi adalah generasi yang telah menjadikan surga sebagai visi, orientasi dan bahkan perspektif mereka dalam kehidupan di dunia ini. Hingga kemudian satu realita yang membuktikan bahwa mereka memang manusia-manusia yang hidup di dunia dengan seluruh kesibukan dan hiruk pikuknya, akan tetapi bagi mereka surga seakan berada di hadapan pelupuk mata mereka yang tidak pernah sirna atau menjauh darinya.

Hadits nabi yang sangat singkat namun padat atau istilahnya jawarmi' al-kalim ini ternyata telah memberikan suatu bekalan yang tidak pendek untuk diamalkan. Semoga setelah kita menangkap dan memahaminya, Allah swt senantiasa memberikan taufiq, hidayah, inayah dan pertolongan kepada kita semua untuk bisa mengamalkannya secara rutin, kontinyu dan istiqamah sampai akhir hayat. Aamiin.

(sumber: Ummi edisi no.08/XX/Desember 2008/1429 H)

Jumat, 05 Desember 2008

Nasihat Bagi Siapa Yang Menginginkan Khusnul Khotimah

(pengajian dengan Ibu Hj. Yulia 28/11/08)

Allah mengisyaratkan kepada kita bahwa Allah menyeru orang-orang beriman agar menghiasi keimanan mereka dengan perilaku taqwa.

Perilaku taqwa yaitu menjaga perintah Allah dan menjauhi segala larangan Allah secara terus menerus hingga sampai pada kematian.

Wahai orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kepada Allah sebenar-benar taqwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim. -Al-Quran Surat Ali-Imran (4) ayat 102-

Iman bisa naik dan turun. Contohnya adalah muhtasidun, yaitu orang yang beriman, tapi juga mencampurkan antara yang batil dengan yang haq.

Khusnul Khotimah : akhir yang baik.
Khusnul khotimah ada 2 macam:
1. Secara dunia. Yaitu orang yang meninggal pada saat:
  • mencari nafkah,
  • melahirkan,
  • tenggelam
2. Secara din. Yaitu mati syahid pada saat berperang di jalan Allah.

Hendaklah kita menjaga ke-islaman kita sampai ajal menjemput kita.
Dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Islam (membesarkan, menjaga Islam ketika hidup).

Dan berilah mereka peringatan akan hari yang semakin dekat (hari Kiamat, yaitu) ketika hati (menyesak) sampai di kerongkongan karena menahan kesedihan. Tidak ada seorang pun teman setia bagi orang yang zalim dan tidak ada baginya seorang penolong yang diterima (pertolongannya). -Al-Quran surat Al-Mu'min (40) ayat 18-

Maksudnya adalah, pada saat sakaratul maut, lidah kita kelu. Ingatan, akal, dan pengetahuan tidak berfungsi. Yang berfungsi adalah alam sadar. Dalam kondisi itu sangat sulit untuk mengucap kalimat Tauhid.

Bagaimana caranya untuk memudahkan pengucapan kalimat tauhid?

Sesungguhnya orang-orang yang berkata, "Tuhan kami adalah Allah" kemudian meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata),"Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu. -Al-Quran Surat Fussilat (41) ayat 30-

Ketika kita membersihkan aqidah kita, maka tauhid akan datang dengan sendirinya. Bagi orang-orang yang benar-benar mengingat Allah, maka Allah akan meneguhkan kata-kata mereka di dunia dan akhirat.

Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh (dalam kehidupan) di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan Allah berbuat apa yang Dia kehendaki. -Al-Quran Surat Ibrahim (14) ayat 27-

Hadist Rasul:
"Seseorang akan selalu bersama sesuatu yang ia sukai."

Kita tidak mungkin masuk surga hanya dengan amal-amal kita saja. Tapi amalan kita akan mengundang Allah memberikan rahmat-Nya sehingga kita bisa masuk surga.