Tampilkan postingan dengan label Kajian Al-Quran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian Al-Quran. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 Agustus 2014

Mendidik Anak untuk Hidup Islami Cara Lukman Al Hakim




Sebenarnya mendidik anak hidup Islami dan membentengi mereka dari kesesatan, tidak sulit mencarinya dalam Al-Qur’an. Prinsip-prinsip pendidikan anak yang Islami sangat jelas disampaikan dalam kisah Luqman al-Hakim berikut ini:

1. Aqidah Yang Kuat

(وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ (13

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya, “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (QS. Luqman: 13)

Bahasan yang paling awal dididikkan kepada anak adalah tentang keyakinan kepada Allah, Al-Ahad. Itulah pondasi pendidikan yang pertama dan utama ditanamkan dalam pikiran anak-anak. Sembahlah Allah saja, dan jangan menyekutukannya dengan apa atau siapa pun, di mana pun dan kapan pun!

2. Kesadaran akan pengawasan Allah ‘azza wa jalla
Pada kesempatan berikutnya, setelah iman tertanam kuat di dada, Luqman berkata,

(يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ (16

“(Luqman berkata), “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha mengetahui.” (QS. Luqman: 16)
Di sini anak dididik sadar akan pengawasan dan hukum Allah. Betapa kebaikan dan keburukan yang diperbuat akan selalu diketahui-Nya, dan diberi balasan yang benar-benar setimpal oleh Allah ta’ala. Lathiifun, Maha Halus pengetahuan-Nya, sehingga segala sesuatu tiada yang tersembunyi betapa pun lembut dan halusnya. Khabiirun, Maha Mengetahui langkah-langkah semut sekecil apa pun yang ada di kegelapan malam yang sangat pekat. (Ibnu Katsir jilid III: 1990: 428-429).

3. Shalat, amar ma’ruf nahi mungkar, dan sabar

Aqidah yang kokoh dan kesadaran akan pengawasan Allah perlu dibuktikan dengan perbuatan. Maka Luqman menuntun putranya kepada amal saleh atau kebaikan yang harus dilakukan. Di ayat ke-17 Luqman menasihati putranya:

(يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ (17

“Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu Termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (QS. Luqman: 17)
Luqman menghasung putranya untuk melaksanakan shalat, berdakwah dan bersabar, sebagai tanda bakti dan bukti kesetiaan hamba kepada Penciptanya.

4. Tidak sombong

Seseorang tidak akan mampu hidup sendiri di dunia ini. Ia bersama triliunan makhluk Allah lainnya hidup bersama di jagat raya ini dan saling tergantung satu dengan lainnya. Karenanya tak ada satu makhluk pun yang patut membanggakan diri di hadapan makhluk lainnya. Inilah yang menjadi pokok nasihat Luqman berikutnya.

(وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ (18

“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman: 18)

5. Sederhana

(وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ إِنَّ أَنْكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ (19

“Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” (QS.Luqman: 19)
Di bagian akhir nasihat Luqman kepada anaknya adalah hasungan untuk bertindak-tanduk dan bertutur kata yang sopan dan sederhana. Mengapa sikap tersebut demikian penting?

Tidak lain karena sikap sederhana menghindarkan manusia dari iri dengki yang membawa permusuhan. Bukankah banyak permasalahan hidup yang timbul gara-gara dipicu sikap atau tutur-kata yang berlebih-lebihan dan menyakitkan?

Apa yang diajarkan Luqman al-Hakim kepada putranya tampak jauh lebih sederhana dalam ukuran kita saat ini. Tetapi dalam kesederhanaan itu terdapat makna yang dalam, yang menjadi inti kepribadian muslim. Iman, sadar, shalat, amar makruf nahi mungkar, sabar, rendah hati, dan sederhana. Mari kita terapkan pada diri sendiri, kita tanamkan pada jiwa anak-anak dan keluarga tercinta, dan kita sebarkan pada lingkungan sekitar. Insya Allah negeri ini akan menjadi lebih Islami dan diberkahi Allah Subhaanahu wa ta’aala.


Sumber: FP Buah Hatiku

Minggu, 14 Juli 2013

Tafsir Surat Al 'Ashr: Orang yang Sukses pada Diri dan Orang Lain





Bagaimanakah menjadi orang yang sukses? Sukses yang dimaksud di sini bukan hanya untuk diri sendiri, namun juga bisa menyelamatkan orang lain. Sukses inilah yang selamat dari kerugian di dunia dan akhirat. Simak tafsir surat Al 'Ashr berikut.

Allah Ta'ala berfirman,

وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

"Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran." (QS. Al 'Ashr: 1-3).

Demi Masa

Allah bersumpah dengan al 'ashr, yang dimaksud adalah waktu atau umur. Karena umur inilah nikmat besar yang diberikan kepada manusia. Umur ini yang digunakan untuk beribadah kepada Allah. Karena sebab umur, manusia menjadi mulia dan jika Allah menetapkan, ia akan masuk surga.

Manusia Benar-Benar dalam Kerugian

Manusia benar-benar berada dalam kerugian. Kerugian di sini adalah lawan dari keberuntungan. Kerugian sendiri ada dua macam kata Syaikh 'Abdurrahman bin Nashir As Sa'di rahimahullah.

Yang pertama, kerugian mutlak yaitu orang yang merugi di dunia dan akhirat. Ia luput dari nikmat dan mendapat siksa di neraka jahim.

Yang kedua, kerugian dari sebagian sisi, bukan yang lainnya. Allah mengglobalkan kerugian pada setiap manusia kecuali yang punya empat sifat: (1) iman, (2) beramal sholeh, (3) saling menasehati dalam kebenaran, (4) saling menasehati dalam kesabaran.

1- Mereka yang Memiliki Iman

Yang dimaksud dengan orang yang selamat dari kerugian yang pertama adalah yang memiliki iman. Syaikh As Sa'di menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah perintah beriman kepada Allah dan beriman kepada-Nya tidak diperoleh kecuali dengan ilmu. Iman itu diperoleh dari ilmu.

Syaikh Sholeh Alu Syaikh berkata bahwa iman di dalamnya harus terdapat perkataan, amalan dan keyakinan. Keyakinan (i'tiqod) inilah ilmu. Karena ilmu berasal dari hati dan akal. Jadi orang yang berilmu jelas selamat dari kerugian.

2- Mereka yang Beramal Sholeh

Yang dimaksud di sini adalah yang melakukan seluruh kebaikan yang lahir maupun yang batin, yang berkaitan dengan hak Allah maupun hak manusia, yang wajib maupun yang sunnah.

3- Mereka yang Saling Menasehati dalam Kebenaran

Yang dimaksud adalah saling menasehati dalam dua hal yang disebutkan sebelumnya. Mereka saling menasehati, memotivasi, dan mendorong untuk beriman dan melakukan amalan sholeh.

4- Mereka yang Saling Menasehati dalam Kesabaran

Yaitu saling menasehati untuk bersabar dalam ketaatan kepada Allah dan menjauhi maksiat, juga sabar dalam menghadapi takdir Allah yang dirasa menyakitkan. Karena sabar itu ada tiga macam: (1) sabar dalam melakukan ketaatan, (2) sabar dalam melakukan maksiat, (3) sabar dalam menghadapi takdir Allah yang terasa menyenangkan atau menyakitkan.

Sukses pada Diri dan Orang Lain

Syaikh As Sa'di rahimahullah menjelaskan, "Dua hal yang pertama (iman dan amal sholeh) untuk menyempurnakan diri manusia. Sedangkan dua hal berikutnya untuk menyempurnakan orang lain. Seorang manusia menggapai kesempurnaan jika melakukan empat hal ini. Itulah manusia yang dapat selamat dari kerugian dan mendapatkan keberuntungan yang besar." (Taisir Al Karimir Rahman, hal. 934).

Sudah Mencukupi dengan Surat Al 'Ashr

Seandainya Allah menjadikan hujjah hanya dengan surat Al 'Ashr ini, maka itu sudah menjadikan hujjah kuat pada manusia. Jadi manusia semuanya berada dalam kerugian kecuali yang memiliki empat sifat: (1) berilmu, (2) beramal sholeh, (3) berdakwah, dan (4) bersabar.

Imam Syafi'i rahimahullah pernah berkata,

هذه السورة لو ما أنزل الله حجة على خلقه إلا هي لكفتهم

"Seandainya Allah menjadikan surat ini sebagai hujjah pada hamba-Nya, maka itu sudah mencukupi mereka." Sebagaimana hal ini dinukil oleh Syaikh Muhammad At Tamimi dalam Kitab Tsalatsatul Ushul.

Baca selengkapnya di http://rumaysho.com/belajar-islam/tafsir-al-quran/4444-tafsir-surat-al-ashr-orang-sukses-waktu.html


Jumat, 02 Januari 2009

Pedoman Memasuki Rumah Orang Lain

(oleh Ahmad Kusyairi Suhail, MA
Direktur Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin (STIU)/
Darul Hikmah/ Yapidh Bekasi)


"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat. Jika kamu tidak menemui seorang pun di dalamnya, maka janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapat izin. Dan jika dikatakan kepadamu:"Kembali (sajalah)", maka hendaklah kamu kembali. Itu bersih bagimu dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Tidak ada dosa atasmu memasuki rumah yang tidak disediakan untuk didiami, yang didalamnya ada keperluanmu, dan Allah mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang kamu sembunyikan." (Al-Quran Surat An-Nuur [24] ayat 27-29)

Sesungguhnya dalam membentuk masyarakat yang bersih dan berwibawa tidak mengandalakan kepada penerapan hukuman, melainkan lebih mengandalkan kepada tindakan pereventif (wiqayah) dan antisipatif. Ia tidak memerangi hasrat dan syahwat manusia, namun mengaturnya, menyiapkan baginya miliu (lingkungan) yang kondusif dan menyalurkannya dengan cara-cara suci nan syar'i.

Dari sini, rumah seseorang, dalam perspektif Islam, memiliki nilai yang agung dan harga diri yang tiada ternilai, yang tidak boleh dicederai dan dinodai. Sebab termasuk prinsip dalam syari'at Islam adalah memperhatikan privacy orang lain dan tidak boleh dilanggarnya. Dan rumah merupakan sesuatu yang sangat pribadi bagi setiap insan.

Untuk itulah Islam datang dengan sejumlah pedoman dan adab untuk memasuki rumah orang lain yang terdapat dalam ayat-ayat diatas. Semua itu tentunya untuk menjaga keharmonisan hubungan antar keluarga. Maka, setiap anggota keluarga harus mengetahuinya demi kebaikan bersama. Berbagai perseteruan dan percekcokan antara dua keluarga atau warga, sering disebabkan oleh pengabaian terhadap pedoman ini.

Asbabun Nuzul (sebab turunnya ayat)

Ibnu Jarir Ath Thabari rahimahullah meriwayatkan dari 'Adi bin Tsabit berkata: "Seorang wanita dari kalangan Anshar datang (menemuiNabi) seraya berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku di rumah dalam keadaan yang aku tidak ingin dilihat oleh siapapun, baik ayahku maupun anakku. Selama ini seorang lelaki dari keluargaku biasa menemuiku dan aku dalam keadaan seperti tadi. Lalu apa yang harus aku perbuat?" Kemudian turunlah ayat 29 dari QS An Nuur (24) di atas (Tafsir Ath Thabari IX/297)

Sementara untuk Asbabun Nuzul ayat 29 dari surat yang sama, Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Muqaatil bin Hayyan, ia berkata: "Ketika turun ayat isti'dzan (meminta izin) untuk memasuki rumah (ayat 27 dari Qs An Nuur), Abu Bakar bertanya, "Wahai Rasulullah, bagaimana dengan para saudagar Quraisy yang mondar mandir antara Mekkah, Madidah dan Syam. Mereka memiliki tempat-tempat singgah di jalan yang sudah maklum, bagaimana caranya mereka meminta izin dan mengucapkan salam, padahal tempat itu tidak berpenghuni?". Lalu turunlah ayat tersebut (Tafsir Al Munir, DR Wahban Az Zuhaili, XVIII/200).

Hukum Isti'dzan (meminta izin) memasuki rumah orang lain
Ayat di atas memberikan pemahaman kepada kita, bahwa isti'dzan sebelum memasuki rumah orang lain hukumnya wajib. Hal ini terbaca dengan jelas dari bunyi ayat tersebut:"...janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin....". Sementara isti'dzan untuk memasuki rumah sendiri hukumnya sunnah.

Jika ayat diatas diawali dengan An Nidaa' Al Habib (panggilan mesra); "Ya Ayyuhalladziina Aamanuu" (Wahai orang-orang yang beriman), maka hal ini mempertegas bahwa karakter orang yang beriman adalah selalu isti'dzan. Jika ingin memakai barang atau peralatan milik orang lain, ia selalu isti'dzan. Jika berhalangan tidak masuk kerja atau absen dalam aktivitas da'wah selalu isti'dzan kepada pihak yang berkompeten, dan seterusnya. Termasuk ketika akan memasuki rumah orang lain, jiga mengawali dengan isti'dzan. Sebab isti'dzan adalah termasuk Muqtadhayaatul Iman (tuntunan keimanan). Berarti orang yang tidak biasa isti'dzan dipertanyakan kualitas keimanannya.

Pada masa jahiliyah, adalah merupakan hal yang biasa seorang tamu nyelonong masuk ke rumah orang lain, tanpa isti'dzan, kemudian ia langsung berkata: "Aku telah masuk!" Sehingga ia pun dengan leluasa melihat penghuni rumah dengan istrinya dalam kondisi yang seharusnya tidak boleh dilihat oleh orang lain. Bisa jadi ia melihat wanita atau orang di rumah itu dalam keadaan telanjang atau terbuka auratnya. Sudah barang tentu hal ini sangat menyakitkan, melukai hati dan mencederai kehormatan penghuni rumah itu. Sehingga menghilangkan privacy, security, ketenanganan dan ketentraman (sakinah) yang semua keluarga selalu mengidamkannya. selain tentu, hal ini bisa memicu munculnya fitnah syahwat (Fi Zhilal Al-Qur'an IV/2508-2509).

Sifat Isti'dzan
Ayat di atas juga memaparkan tentang sifat isti'dzan;"...janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya..."

Maka disyari'atkan bagi orang yang meminta izin untuk mengucapkan salam: "Assalamu'alaikum. Apakah aku boleh masuk?" sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah saw.

Ketika Shafwan bin Umayah menemui Nabi saw yang sedang ada di ketinggian bukit, ia bercerita:"Lalu aku masuk menemui beliau tanpa mengucapkan salam dan isti'dzan (meminta izin). Maka Nabi saw, mengajarkan adab memasuki rumah orang lain sambil bersabda," Kembalilah, lalu ucapkan Assalamu'alaikum. Apakah aku diperkenankan masuk?" (HR At Tirmidzi no. 2710, dia berkata: Hadits ini Hasan Gharib, dan Abu Dawud no. 4508)

Didalam Hadits ini mengucapkan salam lebih didahulukan dari pada isti'dzan.

Adab Isti'dzan
Di antara adab dan sopan santun isti'dzan yang diajarkan Islam adalah:

Pertama, hendaknya seorang yang bertamu ketika isti'dzan tidak berdiri di depan pintu, melainkan mengambil posisi di sebelah kanan atau kiri pintu.

Dari Abdullah bin Bisr ra; "Sesungguhnya Nabi saw jika mendatangi pintu rumah (seseorang) ingin isti'dzan, tidak menghadap pintu. Beliau datang di posisi kanan atau kiri (pintu). Jika diizinkan masuk, beliau masuk. Tapi jika tidak, beliau pulang kembali" (HR Bukhari di kitab Al Adab Al Mufrid no.1081)

Hal ini beliau lakukan, sebab ketika berdiri di tepat didepan pintu, lalu pintu dibuka maka bisa jadi kita akan melihat pemandangan dalam rumah yang tidak diinginkan oleh penghuni rumahnya. Sehingga menafikan hikmah disyari'atkannya isti'dzan seperti disabdakan oleh Rasulullah saw,"Sesungguhnya dijadikan (disyari'atkan) isti'dzan itu demi menjaga penglihatan." (HR Bukhari no.5772 dan Muslim no. 4014).

Kedua, mengetuk pintu dengan sopan dan suara yang tidak terlalu keras. Inilah yang kita pahami dari penggunaan isti'dzan dalam ayat di atas dengan redaksi lafazh "Isti'nas" yang berkonotasi lembut dalam isti'dzan dan sopan dalam mengetuk pintu rumah, sehingga penghuni rumah tidak terganggu dan siap menyambut tamunya dengan hangat dan mesra (Lihat Fi Zhilal Al-Qur'an IV/2508).

Ketiga, menyebut nama atau panggilan yang biasa dikenal oleh penghuni rumah jika ditanya. Dari Jabir ra ia bercerita:"Aku pernah mendatangi Nabi saw, lalu aku mengetuk pintu, beliau bertanya,"Siapa ini?' Aku menjawab,'Saya'. Lalu beliau mengatakan,'Saya. Saya!' Sepertinya beliau tidak menyukainya--karena tidak disebutkan namanya--(HR Bukhari no.5718 dan Muslim no. 4011 dan 4012).

Keempat, hendaklah pulang jika ditolak untuk bertamu dan diminta pulang oleh penghuni rumah, tanpa merasa dongkol dan benci. Sebab, mungkin penghuni rumah tidak siap menerima tamu, atau ia sedang dalam kesibukan yang sangat urgent. Hal ini dalam budaya masyarakat Timur belum terbiasa, namun ini merupakan aturan Illahi:"...dan jika dikatakan kepadamu:"Kembali (saja)lah", maka hendaklah kamu kembali. Itu bersih bagimu dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."

Rasulullah saw bersabda,"Isti'dzan itu tiga kali. Jika diizinkan masuk (masuklah), dan jika tidak, maka pulanglah!" (HR Bukhari no. 6806 dan Muslim no. 4007).

Jika semua keluarga di negeri ini memahami pedoman-pedoman di atas dan mengaplikasikan dalam kehidupan sosialnya, niscaya masyarakat dan bangsa kita akan selalu berada dalam kedamaian, ketentraman dan kemakmuran. Sebab adakah perintah dan taujlihat (arahan) Islam yang tidak membawa kepada kedamaian, ketentraman dan kemakmuran?

(sumber: Ummi edisi 11/XVIII/Maret 2007)