Jumat, 21 November 2008

Tauhid Uluhiyah

(pengajian dengan Umi Husna 07/11/08)

Tauhid Rububiyah baru merupakan teori, dimana kita baru meyakini Allah sebagai satu-satunya:
  • raja penguasa alam
  • pencipta alam
  • pengatur
Tauhid Rububiyah tidak berarti bila tidak diikuti dengan Tauhid Uluhiyah, yaitu meyakini Allah sebagai satu-satunya yang kita ibadahi dan kita sembah.

Tauhid Uluhiyah atau disebut juga Tauhid Ibadah, merupakan satu-satunya misi yang dibawa olah semua nabi dan rasul.

Lihat di Al-Quran Surat An-Nahl (16) ayat 36 yang artinya
Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan),"Sembahlah Allah, dan jauhilah Thagut," kemudian diantara mereka ada yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula yang tetap dalam kesesatan. Maka berjalanlah kamu di bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang yang mendustakan (rasul-rasul).

Setiap umat ada nabinya, tapi karena adanya penyelewengan-penyelewengan sehingga misi para nabi tersebut tidak sampai kepada semua umat manusia.

Ketika seseorang beribadah kepada Allah, maka wajib baginya untuk kafir kepada thagut (sesembahan lain selain Allah).

Manusia boleh membuat peraturan atau undang-undang selama peraturan dan undang-undang tersebut tidak bertentangan dengan syariat. Tapi justru memperkuat.

Maka sembahlah Allah dan jauhilah thagut.
Bisa dilihat dalam Al-Quran Surat Al-Anbiya(21) ayat 25, yang artinya:
Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya, "bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Aku, maka sembahlah aku.

Marilah menuju kepada kalimat yang sama bagi kamu dan kami. Yaitu kalimat shahadat.
Bisa dilihat dalam Al-Quran Surat Ali-Imran (3) ayat 64, yang artinya:
Katakanlah (Muhammad), "Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan ) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka),"Saksikanlah, bahwa kami adalah orang muslim."

Dalam sebuah agama yang penting adalah konsep ketuhanannya. Kita juga harus mengerti apa makna ibadah.

Definisi secara bahasa:
ibadah sama dengan ketundukkan, sama juga dengan menghinakan diri.

Definisi secara Syariah:
Ibadah adalah suatu pengertian yang mencakup apa-apa yang dicintai dan diridhoi Allah, termasuk perkataan dan tingkah laku, baik yang nampak maupun tidak nampak (lahir dan batin).

Apakah yang dicintai Allah? Mari kita lihat Al-Quran Surat Ali-Imran (3) ayat 31, yang artinya:
Katakanlah (Muhammad), "Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu."Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.

Yang dicintai Allah adalah apa yang dilakukan nabi Muhammad SAW. Jangan sampai kita masuk ke dalam golongan orang-orang yang rugi.

Siapakah orang-orang yang rugi itu? Jawabannya ada dalam Al-Quran Surat Al-Kahf (18) ayat 103-106, yang artinya:
(103) Katakanlah (Muhammad), "Apakah perlu Kami beritahukan kepadamu tentang orang yang paling rugi perbuatannya?" (104) (Yaitu) orang yang sia-sia perbuatnnya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka mengira telah berbuat sebaik-baiknya. (105) Mereka itu adalah orang yang mengingkari ayat-ayat Tuhan mereka dan (tidak percaya) terhadap pertemuan dengan-Nya. Maka sia-sialah amal mereka, dan Kami tidak memberikan penimbangan terhadap (amal) mereka pada hari Kiamat. (106) Demikianlah, balasan mereka itu neraka Jahanam, karena kekafiran mereka, dan karena mereka menjadikan ayat-ayat-Ku dan rasul-rasul-Ku sebagai bahan olok-olok.

Jadi, orang yang paling rugi adalah orang-orang yang merasa sudah melakukan amal ibadah, tapi ternyata amalannya ditolak.

Karena itu kita harus memperhatikan syarat ibadah, agar ibadah yang kita lakukan tidak tertolak.

Syarat Ibadah:
1. Ikhlas karena Allah.
2. Benar/betul mengikuti sunah.

0 komentar: