(oleh Musysffa Lc)
Rasulullah - salallallahu 'alaihi wa sallam - bersabda:
Dari Sufyan bin Abdillah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Saya berkata kepada Rasulullah saw: "Wahai Rasulullah, katakan kepadaku tentang Islam satu ucapan yang aku tidak bertanya ke siapapun selain engkau tentangnya". Rasulullah saw bersabda: "Katakan 'Aku beriman kepada Allah', kemudian istiqamahlah." (HR Muslim)
Takhrij Hadits
Hadits ini adalah hadits shahih, diriwayatkan oleh Muslim dalam shahih-nya pada kitab al-Iman, bab Jami' Aushaf as-Islam, hadits no. 38.
Hadits yang sangat pendek dan mudah dihafalkan ini memiliki bobot dan kedudukan yang sangat tinggi dan besar dalam agama Islam, sebab ia adalah satu kosakata yang mencakup berbagai sisi dan kandungan agama Islam. Jika nilai-nilainya dipenuhi oleh seorang muslim, maka ia telah memenuhi semua sisi agama.
Kandungan Hadits
Sebelum membahas tentang istiqamah, ada satu hal yang menarik dari hadits ini, yaitu betapa para sahabat nabi begitu bersemangat untuk bertanya dan meminta "resep" kepada Rasulullah saw dalam rangka mendapatkan keberuntungan hidup di dunia dan kebahagiaan di akhirat.
Hal lain yang menarik dari hadits ini adalah bahwa semangat para sahabat nabi adalah semangat amal dan bukan semata-mata bertanya untuk bertanya. Mengingat konsekwensi amal itu sangat berat, "resep" atau "konsep" yang mereka minta tidaklah banyak dan panjang, tapi singkat dan pendek saja. "Resep" atau "konsep" yang singkat namun padat makna ini adalah jawami' al-kalim.
Hal ketiga yang menarik dari hadits nabi saw adalah jawaban pendek beliau yang merupakan rahasia Islam, yaitu:
- Pernyataan seseorang untuk mengatakan: amantu (saya telah beriman) , dan
- Kesabaran panjang sampai akhir hayat untuk tetap konsisten dan istiqamah pada pernyataan tersebut.
Makna Istiqamah
Secara bahasa, kata istiqamah menunjukkan arti:
- Lurus tegak dan tidak bengkak-bengkok atau tidak belak-belok.
- Berpegang teguh kepada sesuatu dan sedikitpun tidak mau melepaskan pegangan tersebut.
- Ketegaran dan keteguhan atas sesuatu yang menjadi pegangan seseorang, tidak sedikitpun kegoyahan atau miring-miring padanya.
- Menjalankan, menegakkan dan mengamalkan sesuatu yang telah menjadi komitmen seseorang.
- Kesinambungan dan kontinyuitas amal sampai pada akhir hayat.
Sedangkan menurut istilah, yang dimaksud istiqamah adalah keseluruhan makna di atas dalam kaitan dengan seluruh ajaran agama, baik yang bersifat ucapan, perbuatan dan bahkan niat. Betapa beratnya! Semoga Allah - subhanahu wa ta'ala - memberikan pertolongan untuk kita tetap istiqamah.
Kesabaran Yang Panjang
Ada hal menarik dalam "resep" atau "konsep" Rasulullah saw dalam hadits ini, dimana beliau saw mempergunakan kalimat sambung: tsumma yang berarti kemudian.
Dalam bahasa Arab, kalimat sambung yang menunjukkan arti "kemudian" ada dua macam, yaitu: fa yang biasa diterjemahkan "lalu", dan tsumma yang biasa diterjemahkan "kemudian". Dalam bahasa Arab, kata fa menunjukkan adanya urutan dalam tempo atau jarak dekat. Sedangkan kata tsumma menunjukkan urutan dalam jarak panjang dan jauh.
Penggunaan kata tsumma dalam hadits nabi ini menunjukkan bahwa istiqamah yang dituntut adalah istiqamah panjang dan bahkan sangat panjang, sepanjang hidup seseorang. Jadi, jika sesorang telah istiqamah selama 50 tahun dalam hidupnya, namun pada satu tahun terakhir dia "menyerah" dalam arti menyelisihi pernyataan imannya, maka ia tidak bisa dikatakan istiqamah.
Istiqamah Adalah Perintah Yang Amat Berat
Dengan pengertian seperti di atas, maka perintah untuk istiqamah adalah perintah yang sangat berat. Sampai-sampai Rasulullah saw menjadi beruban rambut kepala beliau karena menerima perintah dari Allah swt untuk istiqamah. Rasulullah saw bersabda:
"Surat Hud dan saudara-saudaranya telah menjadikan kepalaku beruban." (Hadits shahih diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, hadits no. 3219)
Hal ini dikarenakan di dalam surat Hud terdapat perintah kepada beliau untuk istiqamah, tepatnya pada QS Hud: 112, "Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan."
Muqarabah dan Istighfar
Mengingat betapa berat dan sulit untuk istiqamah, Rasulullah saw memberikan jalan keluar yang bernama muqarabah yaitu upaya yang sungguh-sungguh untuk mendekati titik ideal istiqamah.
Terkait dengan hal ini Rasulullah saw bersabda:
"Istiqamahlah kalian, dan kalian tidak akan mampu mencapai puncaknya, dan ketahuilah sebaik-baik amal kalian adalah shalat dan tidak konsisten menjaga wudhu kecuali seorang mukmin."
Dan dalam riwayat Imam Ahmad:
"Akan tetapi tepatkanlah sasaran istiqamah kalian dan berusahalah untuk mendekati titik sasaran, dan tidak konsisten menjaga wudhu kecuali seorang mukmin."
(Hadits shahih diriwayatkan olah Ahmad dan lainnya. Lihat shahih al-Jami', hadits no. 952)
Memenuhi standar istiqamah juga bukan sesuatu yang gampang, dan hampir bisa dipastikan ada saja sisi-sisi kelemahan dan kekurangan manusia dalam hal ini. Untuk ini perintah istiqamah dalam Al-Quran disusul dengan perintahuntuk istighfar sebagaiman tersebut dalam QS Fushshilat: 6, "Katakanlah: Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya. Dan kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan-Nya."
Penolong Untuk Istiqamah
ada beberapa amal yang jika manusia mnejalnkannya, insya Allah amal-amal ini akan sangat membantu untuk istiqamah. Di antaranya adalah:
- Menjalankan berbagai bentuk ketaatan dan sungguh-sungguh dalam menjalankannya. Inilah salah satu rahasia, kenapa perintah istiqamah dalam Qs Hud: 112 disusul dengan perintah untuk menegakkan sholat pada QS Hud: 114.
- Meningkatkan ilmu dan pemahaman. Barangkali inilah salah satu rahasia kenapa Rasulullah saw diperintahan oleh Allah swt untuk berdoa: rabbi zidni 'ilma sebagaimana QS Thaha: 114.
- Ikhlas (memurnikan) segala bentuk niat dan tujuan murni semata-mata karean Allah swt.
- Mengikuti sunnah Rasul saw.
- Moderat dan tawazun, baik dalam pola pikir, bertindak maupun beramal.
- Berkawan dengan orang-orang shalih yang mengutamakan istiqamah.
- Selalu mengakrabkan diri dengan Al-Quran.
- Berdoa dan memohon kepada Allah swt untuk bisa istiqamah.
(sumber: Ummi edisi 7/XX November 2008/1429H)

0 komentar:
Posting Komentar