Sabtu, 24 Agustus 2013
Jangan Mencela
"mukmin itu bukan yang suka mencela, bukan pula yang suka melaknat, bukan pula yang keji dan kotor ucapannya" (HR Bukhari) | #remember
"tidaklah seseorang melihat aib saudaranya, lalu dia menutupinya, kecuali dia akan masuk surga" (HR Thabrani) | #remember
nasihat yang didasari kasih sayang itu menenangkan | karena surga Allah itu terlalu luas untuk dinikmati sendirian
yang sesat dan banyak dosa bisa saja taubat memohon ampunan | yang menyesatkan pun bisa saja bertumpuk kesombongan
memberi nasihat bukan agar terlihat hebat | namun supaya sama-sama selamat
tantangan terbesar kita dalam dakwah | boleh jadi berbaik sangka dalam ukhuwah
saat engkau menjelekkan orang lain | sebetulnya dirimu yang sedang engkau hinakan | dan orang lain sedang engkau promosikan
perbedaharaan kata-kata seseorang tersimpan di akalnya | maka akal yang baik hanya menyimpan kata-kata yang baik
"tidaklah kelembutan ada pada sesuatu kecuali akan menghiasinya | dan tidaklah kelembutan itu lepas kecuali akan menjelekkannya" (HR Ahmad)
By Ustadz Felix Siauw
Label:
Akhlak,
Ustad Felix Siauw
MEMAKNAI REZEKI PEMBERIAN ALLAH
Rezeki bukan hanya makanan dan uang.
Rasulullah shalallahu alaihi wassallam bersabda , “dua nikmat (rezeki) yang sering dilupakan kebanyakan orang adalah "kesehatan" dan "kesempatan” (HR Bukhari).
Dalam hidup ini, ada dua jenis rezeki yang diberikan Allah subhana wa Ta'ala kepada manusia:
1. Rizqi kasbi (bersifat usaha)
Rizqi kasbi diperoleh lewat jalur usaha dan kerja. Terutama jika menyangkut kekayaan dunia, rezeki jenis ini tidak mensyaratkan kualitas keimanan penerimanya. Tidak jarang kita jumpai orang yang ingkar kepada Allah tetapi hidupnya sukses.
Selain sebagai hasil kerja, karena rizqi kasbi memang berasal dari sifat rahman atau pemberian Allah. Rumusnya, siapa mau berusaha, dia akan dapat. Karena itu, rezeki berupa kekayaan dunia tidak selalu mencerminkan cinta Allah kepada pemiliknya. Juga karena kekayaan harta memang tidak bernilai di hadapan Allah. “Sekiranya bobot kenikmatan dunia di sisi Allah seberat sayap nyamuk, maka Dia tidak akan memberi minum kepada orang kafir meski hanya seteguk air” (HR Tirmidzi).
2. Rizqi wahbi (hadiah).
Lain dari itu adalah rizqi wahbi. Rezeki ini datangnya di luar prediksi pikiran manusia. Kadang malah tidak memerlukan jerih payah. Pegawai rendahan bisa saja memiliki harta melimpah. Kiai desa yang miskin papa mendadak mendapatkan biaya haji dari pemerintah. Itulah rizqi wahbi. Perolehannya lebih karena sifat rahim atau kasih sayang Allah.
Itulah kenapa yang paling berpeluang mendapatkan rizqi wahbi adalah hamba yang bertakwa. Kesuksesan orang bertakwa itu lebih ditentukan oleh kualitas keimanannya daripada profesinya.
“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, Dia akan memberinya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak dia sangka-sangka. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya” (QS At-Thalaq: 2-3).
Rasulullah shalallahu alaihi wassallam menyatakan, istighfar secara rutin dapat mengundang rezeki dari arah yang tidak kita duga. “Barangsiapa melanggengkan istighfar, Allah akan melapangkan kegalauannya, memberikan solusi atas kerumitannya, dan memberikan rezeki dari arah yang tidak dia sangka sebelumnya” (HR Ibnu Majah).
Rezeki bukan melulu harta. Hidup dijauhkan dari kemaksiatan adalah rezeki ...
Juga gairah untuk beribadah. Kemudahan menyerap ilmu jelas rezeki...
Kesempatan beraktualisasi diri juga rezeki ...
Dan termasuk rezeki adalah ketika kita dihidupkan dalam lingkungan yang baik apalagi memiliki keluarga yang sakinah serta putra putri yang soleh bermanfaat ...
Banyak orang stress akibat ditimpa problem keluarga. Seperti diingatkan Allah, “Wahai orang-orang beriman, sungguh di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu. Maka berhati-hatilah terhadap mereka” (QS At-Taghabun: 14).
Ayat di atas jelas menegaskan bahwa istri dan anak potensial membuat hidup manusia merana. Harta yang melimpah tidak mampu menghapus duka ketika badai rumah tangga melanda. Begitu juga ketika penyakit mendera. Hidup kehilangan gairah. Berpenampilan serba mewah tetapi hati selalu berselimut duka.
Marilah perbanyak syukur atas segala nikmat yang telah Allah karuniakan kepada kita , terlebih nikmat iman, nikmat sehat dan nikmat kesempatan beramal soleh.
Atas buah kecintaan kita kepada Allah, niscaya Allah anugerahkan ketenteraman hati , rezeki (secara luas) yang berkah serta cinta kepada sesama.
Semoga bermanfaat, dan rahmat Allah senantiasa menyertai kita. Aamiin ya Robbal alamin.
Wallahu a'lam bishawab
M Husnaini
Label:
Artikel Islami
Hanya Orang Mulia Yang Memuliakan Wanita
teladan Umar untuk memuliakan wanita :D
#2ndKhalifah Umar bin Khattab
-Hanya Orang Mulia yang Memuliakan Wanita-
1. Umar bin Khattab, nama yang jika didengar saja oleh sahabatnya akan disegani dan jika didengar saja oleh musuhnya akan langsung ditakuti
2. tapi walau bagaimanapun dia tetap adalah seorang suami
3. saat itu seorang laki laki tergesa gesa mendatangi rumah Khalifah Umar
4. tampak rautan kesal diwajahnya | dan nafasnya juga memburu seiring langkahnya yang semakin cepat
5. laki-laki ini ingin segera melaporkan tingkah istrinya pada khalifah yang menurutnya sangat tidak pantas dilakukan seorang istri kepada suami
6. ia sudah tidah tahan karna kecerewatan istrinya dan selalu meninggikan suara kepadanya | dan iapun ingin mengadukannya pada Khalifah
7. hampir mendekati rumah Umar | langkahnya tertahan | dan dari kejauhan dia bisa mendengar percakapan antara Umar dan istrinya
8. sayup sayup ia mendengar suara Istri Umar terdengar lebih tinggi dari suara Amirul Mukminin
9. dan ketika menuju pintu rumah Umar | percakapan antara suami istri itu pun semakin jelas
10. ternyata benar, saat itu dalam percakapannya | suara istri Umar meninggi dan suara Khalifah terdengar melunak
11. riwayat lain mengatakan bahwa Umar sedang diomeli oleh istrinya dan Khalifah hanya diam mendengarkan saja
12. niat laki-laki tadi yang hendak mengetuk pintu Khalifah surut | dan diapun memutuskan untuk kembali pulang
13. ia malu terhadap dirinya jika hendak melaporkan sikap istrinya yang juga sedang dialami seorang khalifah
14. beberapa langkah dia berjalan | pintu rumah Umar terbuka dan keluarlah Umar
15. Umar melihat si laki-laki tadi dan berkata "bisa jadi engkau kemari karena ada suatu keperluan"
16. mendengar pertanyaan Khalifah yang suaranya lantang | si laki-laki tadi pun berbalik dan menjawab "benar wahai Amirul Mukminin"
17. "lalu mengapa engkau berbalik pulang ?" lanjut Umar tanpa senyuman
18. si suami tadi pun menjawab dan menjelaskan perihal kedatangannya kepada Khalifah
19. "aku datang kepadamu hendak melaporkan istriku yang meninggikan suaranya kepadaku.."
20. agak ragu, si suami tadi melanjutkan "lalu aku juga mendengar istrimu juga meninggikan suaranya kepadamu.., maka akupun memutuskan pulang"
21. mendengar penuturaannya, Umar dengan merendahkan suaranya agar tidak didengar oleh istrinya berkata kepada si laki-laki tadi
22. "dia telah susah payah mengandung keturunanku, juga mencucikan pakaianku, membentangkan tempat tidur untukku, lalu mendidik anak2ku"
23. "susah payah dia melakukan semuanya itu, dan dia membaniku nasib baik yang harus aku tanggung jika ia meninggikan suaranya",
By Ustadz Felix Siauw
Label:
Khalifah Umar bin Khattab
Langganan:
Postingan (Atom)

